Harapan indah akan selalu tercipta ketika cahayanya menelusup ke jendela kamarku, ku tatap langit-langit kamarku lalu terbayangkan wajahnya. Iya, sosok pria yang selalu menggunakan jam tangan berwarna hitam berpadu biru tua, dengan rambut klimis dan senyum simpul yang menambah ciri khasnya. 'Darwin Laksana Pratama', seseorang yang kini menjadi pelangi dihidupku karena selalu memberi warna yang indah dalam setiap detiknya.
***
Kutatap cermin, lalu merapihkan diriku. Terpampang jelas nama diseragamku 'Mila Andita' tak terasa sudah tahun pelajaran baru. Ya, aku bergegas turun ke ruang makan. Suara sepeda motor dan klakson terdengar didepan rumahku. Aku tersenyum dan pamit kepada Ibu, lalu ku langkahkan kaki beranjak dari rumah dan menaiki sepeda motor, sepasang kekasih remaja SMA mengukir kenangan canda tawa yang indah.
***
"Bagaimana tidurmu semalam Tuan Puteri?" Darwin selalu menanyakannya padaku setiap hari.
Aku hanya tersenyum, dan dia menggandengku, seperti biasa sorot mata memandang heran, kagum, bahkan iri. Aku tak perduli. Aku menyayangi Darwin tanpa memerdulikan perkataan orang lain.
"Kamu lihat Fahry sama Ayu?" Tanyaku pada Darwin. Ia hanya menggeleng lalu duduk menjajariku. Sahabat kami memang selalu sulit ditemukan ketika suasana pagi disekolah, mereka terlalu rajin untuk datang pagi hari.
"Sudah gak aneh kan?" Ucap Darwin diiringi senyum simpul yang membuat pipiku merah merona.
"Hai, Kalian ini ya, selalu saja berduaan, masih pagi lho!" Suara Ayu menyadarkan lamunanku, terlihat poni tengah dan ikatan ekor kuda dihiasi senyum jahil diwajahnya.
"Tumben kamu gak telat, Yu?" Aku meledeknya.
"Mana ada kamusnya Syara Ayudia telat? Nggak mungkin dong. Haha."
Sahut Ayu dengan tertawa terbahak-bahak.
"Yaudah, ayo kita ke kelas. Mungkin Fahry sudah disana." Ajak Darwin lalu menggandeng tanganku. Ayu hanya melirik, namun dengan tatapan aneh. Dan tersenyum sinis. Entahlah, aku pun tak mengerti.
Tentu saja aku merasakannya, tatapan mata Ayu padaku terasa sinis walau terkadang diiringi seringai disenyumnya. Namun terasa janggal. Aku membuang rasa negatifku terhadap sahabatku ini, walau terkadang aku merasa ia seperti ingin membunuhku. Dan aku yakin itu tak mungkin.
***
Bagaikan bunga indah bermekaran, cinta semakin bersemi diantara aku dan Darwin, tak terasa waktu terasa berlalu begitu cepat, "18 Juli, menuju genap satu tahun" fikirku. 2 hari lagi adalah hari istimewa antara aku dengan Darwin. "Aku sangat menyayanginya" selalu saja kalimat itu yang terlintas dibenakku dan senantiasa membuatku tersenyum lalu merasakan ketenangan dalam alunan musik penghantar menuju bunga mimpiku. Betapa bahagia aku seperti berada dalam dunia nyata bersama Darwin yang kucintai.
Lalu, sekejap keindahan itu lenyap ketika handphoneku berbunyi, aku mengeryip-ngeryipkan mata lalu mulai membaca pesan singkat dari Ayu. Seketika mataku langsung terbelalak membacanya.
"Mil? Darwin menghilang." Isi pesan singkatnya membuatku terkejut, panik, takut, khawatir, aku menangis dan berlari menuju kamar Ibuku dan memeluknya.
"Tenang sayang, Darwin seorang lelaki. Mampu menjaga dirinya sendiri, kamu gak perlu khawatir, Dia pasti mempunyai alasan mengapa melakukan hal seperti itu." Ibu berusaha menenangkanku. Namun kekhawatiranku membuatku menangis semakin kencang.
"Aku takut Darwin terluka, Bu!"
"Dia akan baik-baik saja, nak! Percayalah pada Ibu. Panjatkan doa pada Tuhan, agar senantiasa melindungi Darwin." Ucapan ibu yang selembut kapas menghangatkan dinginnya hatiku, lalu ku mulai duduk bersimpuh dihadapan-Nya disepertiga malamku untuk memanjatkan doa.
***
Jantungku serasa berhenti berdetak ketika Fahry mengatakan "Darwin pergi tanpa masalah dalam keluarga. Bahkan pihak keluarga berfikir Darwin melakukannya karena frustasi mempunyai masalah denganmu."
Salah satu sahabatku ini memberitahukan ku hal tersebut dengan nada datar dan tatapan mata yang mengandung makna namun tidak ku mengerti.
Aku sontak terdiam, seminggu sudah aku menangisi Darwin. Entah mengapa Ayu hanya lebih sering terdiam, "Kita akan cari kemana Darwin pergi" ucapnya semangat.
"Ayo, kita ke kamar Darwin. Siapa tahu kita menemukan petunjuk disana" sambung Ayu. Aku mengangguk lalu menatap Fahry. "Ayo, mil." Fahry merangkulku karena dia tahu aku sudah lemas mendengar banyak kabar tentang Darwin.
***
"Mengapa kamarnya sangat rapih?" Pertanyaan Fahry memecah keheningan.
"Iya, tapi jendela tertutup rapat. Apa Tante Riri menutupnya?" Tanyaku dengan heran.
"Ada jendela dibelakang Lemari itu." Tunjuk Ayu pada sudut ruangan kamar Darwin. Lalu kami menghampirinya.
Mata kami saling berpandangan dengan tatapan yakin, lalu kami bertiga berusaha menggesernya, dan ternyata sangatlah ringan. Dugaanku adalah Darwin pergi lewat jendela yang tertutup ini. Fahry menatapku dan Ayu menemukan secarik kertas dan bertulis dengan spidol merah "seperti buah, dipetik namun menghasilkan syair indah, dingin, harum dan segar"
"Gitar." Gumamku dalam hati.
"Dimana gitar Darwin?" Ayu melirikku dengan tatapan sayu.
"Disana." Aku menunjuk ke arah kap lampu tidurnya.
Tak ada tanda apa-apa dalam gitar tersebut, lalu kami saling bertatapan dengan heran.
Lalu Fahry mengelilingi kamar Darwin, Ayu terdiam memandang langit dijendela, sedangkan aku hanya duduk terdiam menatap figuranya.
"Ini!" Tiba-tiba Fahry mengagetkanku dan Ayu, fotoku dan Darwin dengan berlumuran darah yang membuat kami ngeri lalu langsung melaporkannya ke Polisi.
***
Ku melangkah dengan gontai menuju tempat sejuta kenangan manisku dengan Darwin. Aku benci sekolah setelah mengetahui Darwin menghilang dengan dugaan terbunuh.
"Siapa yang tega membunuh orang sebaik dia, Tuhan?" Gumamku dalam hati.
"Berhentilah menangis, siapapun yang membunuhnya kita akan mengetahui secepatnya." Seraya Fahry menghapuskan air mataku.
Sorot mata siswa memandangku iba setelah beredar kabar Darwin. Aku ingin sekali berlari sejauh mungkin dan menangis untuk memeluknya.
***
"Apa ini?" Ucapku bingung. Aku mengambil dan menatap amplop bergambar hati dimeja ku dengan heran.
"Duh, rupanya Mila Andita punya fans, hebatnya sahabatku. Coba buka dong!" Ayu menghampiriku dan berusaha mencari tahu isi amplop tersebut.
"Buka aja mil, siapa tahu Uang. Kan lumayan buat teraktiran." Sambung Ryan yang hanya ku lirik dengan sinis.
"Aku menantimu di Belakang Sekolah." Lagi-lagi dengan darah, teror macam apa ini? Aku panas dingin dan terdiam. Tubuhku terasa gemetar lalu menerawang jauh entah kemana.
"Mil, kamu kenapa?"
"Mil? Kamu baik-baik saja kan?"
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku akibat Ayu mengguncangkan tubuhku.
"Aku baik-baik saja." Sahutku sekenanya.
***
"Lagi?" Hanya itu yang dapat Fahry katakan ketika aku menceritakan kejadian dikelas pagi hari.
"Entahlah, maksudku bagaimana bisa dia masuk ke sekolah ini untuk memberi petunjuk dengan menerorku?"
"Aku rasa pelakunya orang terdekat. Aku yakin." Tatapan Fahry meyakinkanku dengan singkat.
"Tapi siapa, Ry?" Terasa lagi tetesan airmata mengalir mengiringi tanda tanya besar siapa pelaku dibalik kematian Darwin.
***
"Ayu kemana?" Tanyaku pada Fahry yang hanya berjalan sendiri.
"Dia akan menyusul, dia harus menemui wali kelas."
Siang ini kami bertiga akan menuju tempat petunjuk yang diarahkan. Namun akhirnya Aku dan Fahry terlebih dahulu menuju Belakang Sekolah. Sunyi, terasa panas.
"Kamu takut?" Fahry menoleh ke arahku, sadar akan cengkraman tanganku pada lengannya.
Aku mengangguk, lalu dia menjajariku.
Aku merasa berjalan dengan Darwin, memeluk pinggangnya, bersandar dipundaknya, terasa nyaman seperti saat ini. Walaupun aku sadar, disampingku adalah Fahry.
***
"Dia dekat, dingin, tajam, berbahaya, sakit, menderita, bahagia. Akhir untukmu Mila."
Jantungku seperti ingin copot membaca tulisan ditembok itu, Fahry mendekati dan memegang tembok tersebut. Lalu menoleh "Ini darah, mil"
Aku takut. Lalu memeluk Fahry sangat erat, dan kami kembali dengan langkah yang lebih cepat. Kakiku sudah tak mampu berjalan.
***
Satu sekolah heboh akan tulisan ditembok itu, banyak perbincangan yang menjadi suatu ancaman untukku. Iya, tulisan dengan darah. Aku mengurung diri, merasakan teror yang berdatangan setelah kematian Darwin. Ibu memberi pengawalan ketat untuk menjagaku, namun aku tetap takut. Aku tak pernah ingin tidur. Untuk berkedip pun aku sangat ketakutan. Namun, ketika Fahry memasuki kamarku serasa ada keamanan ada padaku.
"Ayo ikut aku, mil." Fahry menarik tanganku, mengajakku membeli ice cream untuk menghilangkan rasa takutku.
***
"Ayu gak enak badan. Mungkin terlalu banyak fikiran." Fahry memberitahuku dengan cemas.
"Ayo ke rumahnya." Ajakku seraya menarik tangan Fahry, lalu dia hanya tersenyum.
Kami berdua terkejut, ada secarik kertas lagi tersangkut di sepeda motor Fahry. Sudah ku yakin itu adalah petunjuk berikutnya.
"Pukul 19.00 , Dia menunggumu di Taman Sekolah , Apa kata-kata terakhirmu?"
Ice cream ditanganku jatuh membacanya. Akhirnya Fahry menarik tanganku untuk menaiki sepeda motornya.
"Kita langsung pulang, mil. Aku gak mau ada hal yang aneh terjadi sama kita apalagi kamu."
Aku menepis tangannya dan rasa takutku. "Aku harus bertemu dia, aku harus tahu siapa pelakunya!"
"Aku akan ikut. Tapi kita harus memberitahu Ayu terlebih dahulu."
***
"Ke kamarnya aja, non, tuan. Non dia lagi keluar sebentar." Ucap Bi Pipit setelah tahu maksud kami.
"Aku mau ke toilet dulu, Ry. Nanti aku nyusul."
Fahry mengangguk lalu memasuki kamar Ayu.
Mataku terkejut ketika melihat arloji tanganku menunjukkan pukul 18.45. Lalu aku pergi keluar kamar mandi untuk memberitahu Fahry.
"Kamu harus lihat ini." Aku membuntuti Fahry ke kamar Ayu. Dan ternyata..
"Tuhan, mengapa bisa?" Aku ingin menangis karena tak percaya.
Pisau, Kertas berlumuran darah dimana-mana, fotoku dan Darwin, amplop yang sama dengan disekolah, masih banyak rencana Ayu bila gagal membunuhku malam ini.
"Apakah pelakunya?" Fahry melirikku dan langsung menarikku. Lalu kita memberitahu Polisi untuk segera menyelidiki rumah Ayu.
***
Gelap, suasana sangat mencekam, hanya terdengar suara jangkrik bersautan dan diiringi rasa takutku.
Aku menyusun rencana dengan Fahry, lalu bersiap menjalankannya.
"Dimana kamu? Keluarlah. Jika kamu ingin membunuhku, bunuhlah aku." Ucapku dengan suara parau.
Lalu kulihat sosok wanita dengan rambut panjang terurai memegang pisau yang sangat tajam. Ya, aku melihat dengan jelas, poni tengah Ayu yang membuat aku menjadi yakin.
"Apa kata-kata terakhirmu, Mila?" Suaranya parau, namun tak mirip dengan Ayu.
"Memohon maaflah pada keluarga Darwin." Aku tersenyum mengucapkannya. "Itu saja?" Sahutnya. "Dan mengakulah Syara Ayudia." Ku siniskan senyumanku lalu dia terdiam.
"Bagaimana kau bisa mengetahuiku?" Dia berteriak dan berlari ingin menusukku.
"Diam ditempat, anda sudah kami kepung! Turunkan senjata anda!" Ucap salah satu polisi tersebut.
Lalu tembakan gas airmata meluluhkannya.
***
"Mengapa setega itu kau membunuh anakku?" Isak tangis Tante Riri setelah mengetahui Ayu lah pelakunya.
"Karena aku mencintai Darwin." Jawabnya dengan suara parau.
"Caramu salah!" Bentak Fahry mendengar ucapan Ayu.
"Aku membenci Mila." Jawabnya singkat. "Mengapa kau tidak membunuhku saja?" Sambungku kesal.
"Aku memang sengaja menyiapkan pisau untuk mengancam bunuh diri bila Darwin menolakku, dan ternyata benar saja dia mengatakan hal tersebut, aku kesal lalu menangis dan memeluknya. Saat itu aku merasakannya, darah segar mengalir deras dan hangat. Aku menyesal." Ayu menceritakannya hingga menangis "Namun, aku bahagia, karena dapat menatap raut wajahnya yang tampan dengan dekat. Aku merasakan Darwin dekat denganku walau tak bernyawa. Itu lebih baik daripada aku harus melihatnya tertawa bahagia bersamamu." Sambung Ayu dengan sinis melirikku.
***
Akhirnya teka-teki terpecahkan, Ayu menanggung semua hukuman perbuatannya dipenjara. Sedangkan jenazah Darwin sudah ditemukan lalu dimakamkan dengan layak.
"Darwin pasti udah tenang disana ya, Ry?" Aku mengelus batu nisannya lalu tersenyum.
"Pasti, mil." Sahutnya. "Hei, kawan! Ini kita Fahry sama Mila. Semoga kamu tenang disana, win. Kamu gak perlu khawatir. Ada aku yang bakal jagain Mila." Ujar Fahry membuatku meliriknya.
"Aku tahu, mil. Gak akan mudah." Lanjutnya dengan tatapan kosong menerawang ke langit biru di angkasa.
"Tapi aku akan mencobanya." Aku tersenyum seraya memegang tangannya dan Fahry menatapku.
***
Iya, Fahry Dwi Achmad, yang saat ini mampu membuat hidupku mendapat sinar lebih terang. Fahry membuatku tegar diatas penderitaan yang aku alami. Fahry tidak menggantikan posisi Darwin, tapi Fahry juga memiliki posisi yang lebih berarti dihatiku. Aku yakin Darwin sedang tersenyum melihat aku bahagia disini bersama Fahry yang menjadi kekasihku hingga detik ini.
~Selesai~
Posted from WordPress AnnisaNurfitriani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar